Sahabat, ingatkah kau di saat kita pertama kali bertemu di akhir desember itu? Saat itu kita masih kecil, aku tak sengaja menyenggolmu ke dalam parit itu. Semenjak itu kita mulai berkenalan, melewati beberapa hari indahku di kampung.
Sahabat, aku rindu, rindu sekali. Tak pernah aku menemukan sosok sahabat sepertimu lagi, sosok yang selalu mendukungku di saat aku terpuruk. Masih ingatkah kau saat itu? Malam dimana kita berkeliling kota dengan sepeda motormu? Masih teringat jelas memori tentang malam itu. Malam dimana terakhir aku bercanda tawa denganmu.
Dua tahun yang lalu. Kau meminta izin dari ku untuk pergi bersama kawanan motormu menuju pegunungan itu. Seharusnya memang keputusanku ialah benar, melarang kau untuk pergi. Namun karena kau begitu meyakinkanku, keputusanku yang awalnya kuat kemudian melemah. Dan kau, pergi tak kembali.
Kau tahu betapa terkejutnya aku mendengar kabar bahwa kau meninggal saat perjalanan itu? Awalnya aku tak percaya begitu saja, namun pada akhirnya memang begitulah yang terjadi.
Aku tak kuat membayangkan kecelakaan itu, aku tak kuat membayangkan tubuh sahabatku sendiri meregang nyawa terjepit di bawah kendaraan besar itu. Mengapa itu harus tejadi padamu sahabat?
Dulu kau berjanji akan menjadi sahabat yang selalu menemaniku, aku masih ingat janji itu. Janji seorang anak berusia 10 tahun.
Aku rindu padamu sahabat, rindu.
Gilak ini kisah nyata apa begimana tut?
BalasHapusGilak ini kisah nyata apa begimana tut?
BalasHapus