A homepage subtitle here And an awesome description here!

Jumat, 24 Maret 2017

Sahabat.

Sahabat, aku rindu padamu, aku rindu canda tawa bersama mu, aku rindu menikmati dinginnya angin malam yang berhembus di kala kau memacu kencang   sepeda motormu.

Sahabat, ingatkah kau di saat kita pertama kali bertemu di akhir desember itu? Saat itu kita masih kecil, aku tak sengaja menyenggolmu ke dalam parit itu. Semenjak itu kita mulai berkenalan, melewati beberapa hari indahku di kampung.

Sahabat, aku rindu, rindu sekali. Tak pernah aku menemukan sosok sahabat sepertimu lagi, sosok yang selalu mendukungku di saat aku terpuruk. Masih ingatkah kau saat itu? Malam dimana kita berkeliling kota dengan sepeda motormu? Masih teringat jelas memori tentang malam itu. Malam dimana terakhir aku bercanda tawa denganmu. 

Dua tahun yang lalu. Kau meminta izin dari ku untuk pergi bersama kawanan motormu menuju pegunungan itu. Seharusnya memang keputusanku ialah benar, melarang kau untuk pergi. Namun karena kau begitu meyakinkanku, keputusanku yang awalnya kuat kemudian melemah. Dan kau, pergi tak kembali.

Kau tahu betapa terkejutnya aku mendengar kabar bahwa kau meninggal saat perjalanan itu? Awalnya aku tak percaya begitu saja, namun pada akhirnya memang begitulah yang terjadi.

Aku tak kuat membayangkan kecelakaan itu, aku tak kuat membayangkan tubuh sahabatku sendiri meregang nyawa terjepit di bawah kendaraan besar itu. Mengapa itu harus tejadi padamu sahabat? 

Dulu kau berjanji akan menjadi sahabat yang selalu menemaniku, aku masih ingat janji itu. Janji seorang anak berusia 10 tahun.

Aku rindu padamu sahabat, rindu.

Kamis, 26 Januari 2017

Lepas

Jujur, melepasmu memang sangat sulit. Beribu cara telah aku lakukan agar aku dapat mengikhlaskanmu dengannya. Namun, aku bukanlah ikatan rangkaian DNA Kromosom yang mudah melepas gennya, aku hanyalah debu di karpet yang sulit untuk melepaskan.

Memang sakit saat aku mendengarmu menjalin kasih dengannya. Semakin aku melepasmu, semakin engkau bertanya-tanya mengapa aku menjauh darimu. Bukan, bukan maksud aku menjauh darimu. Aku hanya ingin merasakan kebebasan tanpa ada rasa kepada sahabatku sendiri. Aku ingin melepasmu. Aku ingin mencari cinta yang lain. Memang aku yang salah, tak seharusnya aku memendam rasa kepada sahabatku sendiri. Sakit, sakit memang saat kau menceritakan semua hal tentang kekasihmu. Lelah, lelah memang saat aku memasang senyum yang amat sangat terpaksa ketika kau menceritakan kekasihmu.

Tanpa ada kebohongan dalam benakku, melepasmu memang sangat sulit. Aku penah berpikir untuk tetap mencintaimu meskipun kau bersama yang lain. Namun aku salah, aku sangat bodoh jika melakukan hal itu. Dan, setelah sekian lama akhirnya aku bisa melepasmu. Semua masa lalu ku yang terkubur sekarang telah bangkit kembali. Ternyata, aku masih merindukannya setelah bertahun-tahun ku tutup rapat kenangan itu.

Sekarang, aku berharap padamu agar jangan kau tanyakan lagi mengapa aku mendiamkanmu. Jangan kau tanya lagi mengapa aku tak pernah membalas pesanmu. Aku hanya ingin bersama dia yang selama ini terkubur dalam hatiku. Ini hanya butuh waktu, aku harap kamu bersabar sampai aku siap bersahabat denganmu lagi. Tanpa kau tanya siapa sosok "dia" yang ku maksud dalam kalimat sebelumya, ku rasa kau tahu. Karena dia adalah masa laluku yang sering ku ceritakan padamu.

Kamis, 26 Januari 2017.