Semenjak kehadirannya kamu berubah. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Yang ku tahu dulu kita begitu dekat. Tak ada hubungan spesial namun saling mengerti, saling mengingatkan, saling peduli satu sama lain. Kau yang selalu mengkhawatirkan ku, pun begitu sebaliknya.
Hari-hari yang kau lewati selalu ada aku di dekatmu, begitu juga sebaliknya. Namun, lagi-lagi aku tak mengerti mengapa dia yang sekarang menggantikanku. Aku rindu hari itu, hari di mana aku dan kau berbagi cerita tentang hari yang telah kita lewati. Entah itu buruk ataupun bahagia. Kau tak rindu juga kah?
Hei kamu, masih ingat tentang ucapanmu yang tak akan pernah menghilang dari ku? Ucapanmu itu masih teringat jelas dalam memoriku. Hingga kini aku selalu mengingatnya. Kau memang tak pernah menghilang tapi kau menggantikanku dengan yang lain. Tubuhmu masih ada, bahkan masih sama, tapi mungkin hatimu yang telah berubah.
Aku tak tahu apa itu bertahan, yang ku tahu aku selalu bersabar. Berusaha membencimu juga aku tak bisa, lantas apa yang harus aku lakukan? Menunggu hatimu kembali atau aku harus pergi?
Kamis, 31 Januari 2019
Minggu, 18 Maret 2018
Salah rasa
—“Kamu gak merasa bersalah gitu udah bohongin dia? Kamu gak merasa bersalah sama sekali gitu udah khianatin dia? Kamu benar-benar gak merasa jahat gitu udah ninggalin dia? Itu dia loh, orang yang kamu kejar-kejar dulu.” — Sunday, 18 March.
Jumat, 24 Maret 2017
Sahabat.
Sahabat, aku rindu padamu, aku rindu canda tawa bersama mu, aku rindu menikmati dinginnya angin malam yang berhembus di kala kau memacu kencang sepeda motormu.
Sahabat, ingatkah kau di saat kita pertama kali bertemu di akhir desember itu? Saat itu kita masih kecil, aku tak sengaja menyenggolmu ke dalam parit itu. Semenjak itu kita mulai berkenalan, melewati beberapa hari indahku di kampung.
Sahabat, aku rindu, rindu sekali. Tak pernah aku menemukan sosok sahabat sepertimu lagi, sosok yang selalu mendukungku di saat aku terpuruk. Masih ingatkah kau saat itu? Malam dimana kita berkeliling kota dengan sepeda motormu? Masih teringat jelas memori tentang malam itu. Malam dimana terakhir aku bercanda tawa denganmu.
Dua tahun yang lalu. Kau meminta izin dari ku untuk pergi bersama kawanan motormu menuju pegunungan itu. Seharusnya memang keputusanku ialah benar, melarang kau untuk pergi. Namun karena kau begitu meyakinkanku, keputusanku yang awalnya kuat kemudian melemah. Dan kau, pergi tak kembali.
Kau tahu betapa terkejutnya aku mendengar kabar bahwa kau meninggal saat perjalanan itu? Awalnya aku tak percaya begitu saja, namun pada akhirnya memang begitulah yang terjadi.
Aku tak kuat membayangkan kecelakaan itu, aku tak kuat membayangkan tubuh sahabatku sendiri meregang nyawa terjepit di bawah kendaraan besar itu. Mengapa itu harus tejadi padamu sahabat?
Dulu kau berjanji akan menjadi sahabat yang selalu menemaniku, aku masih ingat janji itu. Janji seorang anak berusia 10 tahun.
Aku rindu padamu sahabat, rindu.
Kamis, 26 Januari 2017
Lepas
Jujur, melepasmu memang sangat sulit. Beribu cara telah aku lakukan agar aku dapat mengikhlaskanmu dengannya. Namun, aku bukanlah ikatan rangkaian DNA Kromosom yang mudah melepas gennya, aku hanyalah debu di karpet yang sulit untuk melepaskan.
Memang sakit saat aku mendengarmu menjalin kasih dengannya. Semakin aku melepasmu, semakin engkau bertanya-tanya mengapa aku menjauh darimu. Bukan, bukan maksud aku menjauh darimu. Aku hanya ingin merasakan kebebasan tanpa ada rasa kepada sahabatku sendiri. Aku ingin melepasmu. Aku ingin mencari cinta yang lain. Memang aku yang salah, tak seharusnya aku memendam rasa kepada sahabatku sendiri. Sakit, sakit memang saat kau menceritakan semua hal tentang kekasihmu. Lelah, lelah memang saat aku memasang senyum yang amat sangat terpaksa ketika kau menceritakan kekasihmu.
Tanpa ada kebohongan dalam benakku, melepasmu memang sangat sulit. Aku penah berpikir untuk tetap mencintaimu meskipun kau bersama yang lain. Namun aku salah, aku sangat bodoh jika melakukan hal itu. Dan, setelah sekian lama akhirnya aku bisa melepasmu. Semua masa lalu ku yang terkubur sekarang telah bangkit kembali. Ternyata, aku masih merindukannya setelah bertahun-tahun ku tutup rapat kenangan itu.
Sekarang, aku berharap padamu agar jangan kau tanyakan lagi mengapa aku mendiamkanmu. Jangan kau tanya lagi mengapa aku tak pernah membalas pesanmu. Aku hanya ingin bersama dia yang selama ini terkubur dalam hatiku. Ini hanya butuh waktu, aku harap kamu bersabar sampai aku siap bersahabat denganmu lagi. Tanpa kau tanya siapa sosok "dia" yang ku maksud dalam kalimat sebelumya, ku rasa kau tahu. Karena dia adalah masa laluku yang sering ku ceritakan padamu.
Kamis, 26 Januari 2017.
Senin, 28 November 2016
Yang Terindah
Kau, apa kabar disana? Baik-baik saja kan? Hey, aku kangen kamu. Aku kangen berduaan sama kamu. Aku kangen cara kamu cemburu. Aku kangen pas kamu marah-marah gak jelas karena aku pulang sama dia, padahal disitu posisinya kita gakada ikatan. Kamu lagi apa sekarang? Bahagiakah kamu disana dengan kekasihmu yang sekarang?
Hey, tahukah kamu setiap malam aku selalu membayangkan kejadian-kejadian yang membuat kita dulu begitu dekat? Aku kangen sama kamu, aku kangen nyuapin kamu es durian dekat SMP-ku dulu. Aku kangen sama cara kamu khawatir ke aku. Aku kangen bercanda sama kamu. Aku kangen sama kamu yang takut hantu. Aku kangen kamu yang selalu nyuruh aku belajar dengan giat. Aku kangen jalan-jalan sama kamu.
Hey, tahukah kamu aku selalu membanding-bandingkan kamu dengan orang yang aku taksir beberapa tahun belakangan ini? Aku masih ingat cara kamu memperlakukan aku, kau begitu hangat, sehangat mentari pagi. Begitu nyaman tanpa rasa asing. Aku kangen ngomongin orang sama kamu. Aku kangen ngobrol hal-hal yang menurutku kurang penting, namun aku sangat antusias mendengar celotehmu yang sampai sekarang sangat aku rindukan. Aku masih ingat bagaimana caramu membuatku jatuh cinta.
Sampai sekarangpun aku masih mengingat jelas senyummu yang indah, aku beruntung sempat memilikimu walau itu termasuk waktu yang singkat. Aku juga masih ingat satu janjimu yang sampai sekarang masih aku tunggu. Janji yang dulu sempat membuatku terbang ke awan.
Masih ingatkah kau malam itu? Malam yang tak pernah aku duga sebelumnya, malam yang membuatku merasa hancur, malam yang membuatku takut untuk merasakan cinta lagi. Tanpa alasan yang jelas kau meminta pisah denganku, waktu itu aku tak bisa berkata apa-apa. Aku masih ingat beberapa waktu setelah kejadian itu, aku melihatmu dengannya. Namun ternyata aku tau, kau tak pernah sekalipun berniat pisah denganku. Kau hanya diancam oleh beberapa setan yang mengaku sebagai keluargamu.
Kau tahu? Kau selalu berada di suatu tempat di relung hatiku. Engkau, masih yang terindah.
Tuhan, jika memang rasa ini hanya untuknya
Jangan pernah ambil rasa ini
Hanya rasa ini yang selalu membuatku mengingat hal-hal yang indah dengannya
Tuhan, walaupun aku sudah tak berada disisinya, walau kami telah menapaki jalan yang berbeda
Ku harap takdir selalu menuntunnya
Kamis, 20 Oktober 2016
Cinta Terakhir
Tuhan, aku sangat mencintainya. Ia yang selalu ada di sampingku di setiap hari-hari ku. Ia yang selalu membuat hariku berwarna. Ia yang tak pernah bosan membuatku tertawa. Ia yang selalu menjadi alasanku untuk kembali merasakan apa itu cinta.
Tuhan, salahkah aku bila terus memendam perasaan ini? Perasaan yang tak bisa ku jelaskan sejak aku mulai dekat dengannya. Aku tahu aku memang tak mudah mencintai seseorang, namun ketika aku berada di dekatnya entah kenapa jantung ini terasa lebih cepat memompa. Seakan-akan terjadi serangan jantung namun bukan, bukan seperti itu, seperti ah sudahlah aku tak bisa menjelaskannya.
Tuhan, salahkah aku yang mencintai seseorang yang telah memiliki kekasih? Aku begitu mencintainya hingga aku lupa dia telah memiliki kekasih. Aku mencintainya terlebih dahulu jauh sebelum dia bertemu dengan kekasihnya yang sekarang, salahkah aku? Aku menahan cemburu ketika ia menceritakan tentang kekasihnya itu. Seandainya yang ia ceritakan itu aku, mungkin aku akan lebih bahagia.
Tuhan, tak bisa kah engkau memindahkan rasa ini kepada seseorang yang telah mencintaiku setulus hati? Dia yang rela mencintaiku hingga lima tahun, yang aku tahu itu tak mudah. Aku tahu dia mencintaiku dari dulu, namun mengapa rasa ini tak bisa pindah kepada hati yang tulus? Dia yang selalu menemaniku di setiap waktu ketika penyakitku kambuh. Dia yang tak pernah lelah mengantarku bolak-balik ke rumah sakit di saat aku melemah. Tak seperti orang yang ku cintai, dia tak pernah peduli terhadapku. Tuhan, apakah memang cinta yang tulus tak pernah mendapat kebahagiaan?
Tuhan, jikalau memang rasa ini hanya untuknya, aku pasrah. Aku tak tahu harus apa. Menjauh darinya saja aku tak mampu. Mengapa rasa cinta ini begitu besar kepadanya? Seakan-akan hanya dia yang selalu membuatku bahagia namun kenyataannya, dia yang selalu membuat kondisi tubuhku melemah.
Tuhan, aku hanya ingin bersamanya di hari-hari terakhirku sebelum vonis dokter itu tiba. Ia tak perlu tahu apa penyakitku, asalkan dia ada di dekatku, aku merasa sehat.
Senin, 04 April 2016
Penggantiku
Aku iri,
Aku iri sama dia yang selalu ada di sisimu sekarang. Dia yang selalu nemenin kamu, padahal dulu aku yang nemenin kamu. Hahaha.
Aku bingung, kenapa dengan mudahnya kamu menemukan pengganti aku? Segitu gampangnya ya aku dilupain? Oiya aku emang gakada apa-apanya kan yaa hehehe. Tapi aku selalu ada kok setiap kamu butuh apa-apa, serius.
Jadi inget dulu deh, pas kamu masih nemenin aku. Kita kemana-mana bareng, gak kayak sekarang. Sekarang mah kamu sama dia kan ya? Hahaha. Aku mah kuat, kuat banget, serius. Kuat ngeliat kamu sama dia berduaan terus. Serius deh aku kuat, kapan aku boong sama kamu?
Aku iri,
Aku iri sama dia yang selalu dibuat ketawa sama kamu, kayak aku dulu gitu. Dulu lho ya dulu, pas kamu masih sama aku, eh maksudnya pas kamu masih nemenin aku hehehe . Sekarang kan kamu udah sama dia.
Aku gak cemburu sebenernya kamu sekarang sama dia tuh, cuma kayak ada rasa gak ikhlas entah itu iri atau apalah. Lagian kalo aku cemburu juga percuma toh aku bukan siapa-siapa kamu kan?
Pengen si ngulang hari-hari itu sama kamu, tapi yaa mau gimana lagi jalan ninja kita berbeda,Lah? Eh maksudnya perasaan kita udah beda, etapi kayaknya cuma perasaan kamu aja deh yang udah berubah, aku sih belum. Masih ada koo rasa itu, rasa yang belum pernah terucapkan. Nah tuh kan aku gak sedih buktinya aku masih bisa bercanda. Hehehe.
Oke kalo misalkan kamu lebih milih dia daripada aku, kalo itu terbaik buat kamu aku coba buat ikhlas deh. Aku janji.



