A homepage subtitle here And an awesome description here!

Senin, 28 November 2016

Yang Terindah

Kau, apa kabar disana? Baik-baik saja kan? Hey, aku kangen kamu. Aku kangen berduaan sama kamu. Aku kangen cara kamu cemburu. Aku kangen pas kamu marah-marah gak jelas karena aku pulang sama dia, padahal disitu posisinya  kita gakada ikatan. Kamu lagi apa sekarang? Bahagiakah kamu disana dengan kekasihmu yang sekarang?

Hey, tahukah kamu setiap malam aku selalu membayangkan kejadian-kejadian yang membuat kita dulu begitu dekat? Aku kangen sama kamu, aku kangen nyuapin kamu es durian dekat SMP-ku dulu. Aku kangen sama cara kamu khawatir ke aku. Aku kangen bercanda sama kamu. Aku kangen sama kamu yang takut hantu. Aku kangen kamu yang selalu nyuruh aku belajar dengan giat. Aku kangen jalan-jalan sama kamu. 

Hey, tahukah kamu aku selalu membanding-bandingkan kamu dengan orang yang aku taksir beberapa tahun belakangan ini? Aku masih ingat cara kamu memperlakukan aku, kau begitu hangat, sehangat mentari pagi. Begitu nyaman tanpa rasa asing. Aku kangen ngomongin orang sama kamu. Aku kangen ngobrol hal-hal yang menurutku kurang penting, namun aku sangat antusias mendengar celotehmu yang sampai sekarang sangat aku rindukan. Aku masih ingat bagaimana caramu membuatku jatuh cinta.

Sampai sekarangpun aku masih mengingat jelas senyummu yang indah, aku beruntung sempat memilikimu walau itu termasuk waktu yang singkat. Aku juga masih ingat satu janjimu yang sampai sekarang masih aku tunggu. Janji yang dulu sempat membuatku terbang ke awan.

Masih ingatkah kau malam itu? Malam yang tak pernah aku duga sebelumnya, malam yang membuatku merasa hancur, malam yang membuatku takut untuk merasakan cinta lagi. Tanpa alasan yang jelas kau meminta pisah denganku, waktu itu aku tak bisa berkata apa-apa. Aku masih ingat beberapa waktu setelah kejadian itu, aku melihatmu dengannya. Namun ternyata aku tau, kau tak pernah sekalipun berniat pisah denganku. Kau hanya diancam oleh beberapa setan yang mengaku sebagai keluargamu.

Kau tahu? Kau selalu berada di suatu tempat di relung hatiku. Engkau, masih yang terindah.

Tuhan, jika memang rasa ini hanya untuknya
Jangan pernah ambil rasa ini
Hanya rasa ini yang selalu membuatku mengingat hal-hal yang indah dengannya
Tuhan, walaupun aku sudah tak berada disisinya, walau kami telah menapaki jalan yang berbeda
Ku harap takdir selalu menuntunnya

Kamis, 20 Oktober 2016

Cinta Terakhir

Tuhan, aku sangat mencintainya. Ia yang selalu ada di sampingku di setiap hari-hari ku. Ia yang selalu membuat hariku berwarna. Ia yang tak pernah bosan membuatku tertawa. Ia yang selalu menjadi alasanku untuk kembali merasakan apa itu cinta.

Tuhan, salahkah aku bila terus memendam perasaan ini? Perasaan yang tak bisa ku jelaskan sejak aku mulai dekat dengannya. Aku tahu aku memang tak mudah mencintai seseorang, namun ketika aku berada di dekatnya entah kenapa jantung ini terasa lebih cepat memompa. Seakan-akan terjadi serangan jantung namun bukan, bukan seperti itu, seperti ah sudahlah aku tak bisa menjelaskannya.

Tuhan, salahkah aku yang mencintai seseorang yang telah memiliki kekasih? Aku begitu mencintainya hingga aku lupa dia telah memiliki kekasih. Aku mencintainya terlebih dahulu jauh sebelum dia bertemu dengan kekasihnya yang sekarang, salahkah aku? Aku menahan cemburu ketika ia menceritakan tentang kekasihnya itu. Seandainya yang ia ceritakan itu aku, mungkin aku akan lebih bahagia.

Tuhan, tak bisa kah engkau memindahkan rasa ini kepada seseorang yang telah mencintaiku setulus hati? Dia yang rela mencintaiku hingga lima tahun, yang aku tahu itu tak mudah. Aku tahu dia mencintaiku dari dulu, namun mengapa rasa ini tak bisa pindah kepada hati yang tulus? Dia yang selalu menemaniku di setiap waktu ketika penyakitku kambuh. Dia yang tak pernah lelah mengantarku bolak-balik ke rumah sakit di saat aku melemah. Tak seperti orang yang ku cintai, dia tak pernah peduli terhadapku. Tuhan, apakah memang cinta yang tulus tak pernah mendapat kebahagiaan?

Tuhan, jikalau memang rasa ini hanya untuknya, aku pasrah. Aku tak tahu harus apa. Menjauh darinya saja aku tak mampu. Mengapa rasa cinta ini begitu besar kepadanya? Seakan-akan hanya dia yang selalu membuatku bahagia namun kenyataannya, dia yang selalu membuat kondisi tubuhku melemah.

Tuhan, aku hanya ingin bersamanya di hari-hari terakhirku sebelum vonis dokter itu tiba. Ia tak perlu tahu apa penyakitku, asalkan dia ada di dekatku, aku merasa sehat. 




Senin, 04 April 2016

Penggantiku

Aku iri,
Aku iri sama dia yang selalu ada di sisimu sekarang. Dia yang selalu nemenin kamu, padahal dulu aku yang nemenin kamu. Hahaha.

Aku bingung, kenapa dengan mudahnya kamu menemukan pengganti aku? Segitu gampangnya ya aku dilupain? Oiya aku emang gakada apa-apanya kan yaa hehehe. Tapi aku selalu ada kok setiap kamu butuh apa-apa, serius.

Jadi inget dulu deh, pas kamu masih nemenin aku. Kita kemana-mana bareng, gak kayak sekarang. Sekarang mah kamu sama dia kan ya? Hahaha. Aku mah kuat, kuat banget, serius. Kuat ngeliat kamu sama dia berduaan terus. Serius deh aku kuat, kapan aku boong sama kamu?

Aku iri,
Aku iri sama dia yang selalu dibuat ketawa sama kamu, kayak aku dulu gitu. Dulu lho ya dulu, pas kamu masih sama aku, eh maksudnya pas kamu masih nemenin aku hehehe . Sekarang kan kamu udah sama dia.

Aku gak cemburu sebenernya kamu sekarang sama dia tuh, cuma kayak ada rasa gak ikhlas entah itu iri atau apalah. Lagian kalo aku cemburu juga percuma toh aku bukan siapa-siapa kamu kan?

Pengen si ngulang hari-hari itu sama kamu, tapi yaa mau gimana lagi jalan ninja kita berbeda,Lah? Eh maksudnya perasaan kita udah beda, etapi kayaknya cuma perasaan kamu aja deh yang udah berubah, aku sih belum. Masih ada koo rasa itu, rasa yang belum pernah terucapkan. Nah tuh kan aku gak sedih buktinya aku masih bisa bercanda. Hehehe.

Oke kalo misalkan kamu lebih milih dia daripada aku, kalo itu terbaik buat kamu aku coba buat ikhlas deh. Aku janji.

Minggu, 27 Maret 2016

Aku yang salah?

Heeuuhh
Makin gak ngerti sama kamu yang sekarang. Kenapa sekarang kamu malah lebih cuek? Sumpah aku gak ngerti. Salah aku apa? Gak ngasih kabar kamu? Emang aku siapa kamu? Pacar? Bukan. Percuma juga aku ngasih kabar ke kamu, gak guna. Pernah sekali aku ngasih tau keadaan aku gimana tapi kamu gak peduli. Seakan-akan kamu kayak bilang "apaansi gajelas" kamu pikir aku gak sakit digituin? Sakit. Banget. Pernah waktu itu aku minta maaf tapi apa balesan kamu? Kamu selalu bilang "lu kenapa si? Gajelas!" Adanya tuh kamu yang kenapa! Adanya kamu itu yang gajelas.

Kenapa mencintai kamu begitu sakit? Oke, aku emang pecundang yang gak berani ungkapin rasa aku ke kamu. Tapi mau gimana lagi? Aku gak ngungkapin aja kamu udah cuek apalagi aku ungkapin? Sama aja bunuh diri. Iya kan?
Apa yang udah aku lakuin sama kamu? Aku salah apa? Tolong kasih tau. Biar kalo aku udah pergi aku udah tenang. 

Jujur, aku kangen. Aku kangen kamu yang dulu. Kamu  yang selalu ada waktu buat aku. Kamu yang selalu badmood kalo aku deket sama yang lain. Kamu yang selalu gak terima setiap aku perhatian sama yang lain. Kamu yang selalu nanyain aku ada dimana. Kamu yang selalu buat aku ketawa. Kamu yang selalu ada di chat teratas aku. Yaa meskipun kita gakada ikatan. Tapi seenggaknya itu udah buat aku ngerasa cukup bahagia sama kamu.

Tapi sekarang apa? Kamu cuek, cuek banget. Kamu gak ngeliat aku sering uring-uringan akhir-akhir ini? Kamu buta? Apa iya aku harus bilang ke kamu kalo aku "KANGEN KAMU YANG DULU!"? Enggak kan? Kamu udah ada yang lain? Yaudah gapapa aku ikhlas kok kalo kamu bahagia. Tapi beri aku alasan yang jelas mengapa kamu seperti ini sekarang.

Cinta kamu itu kayak kembang api, terbang sesaat dengan indahnya membuat orang terpesona lalu hilang dalam sebuah keheningan. Gak berbekas sama sekali, seperti tidak terjadi apa-apa. 

Tapi yang jelas aku masih menyanyangimu seperti dulu. Tak ada ubahnya. Dan aku masih menunggu saat-saat kita bisa bercanda dengan indahnya seperti dulu. 

Satu lagi, maafkan aku jika kamu seperti sekarang karena aku.



Senin, 04 Januari 2016

Ngejauh (?)

Hhmmmm
Saakit. Yaa.. Sakit.
Sakit pas aku liat kamu sama dia, entah mengapa dadaku sesak. Aku bingung sama kamu, kamu sewaktu-waktu seakan kamu sayang sama aku tapi tiba-tiba kamu jadi berubah seperti gak ada rasa. Dulu itu kamu care, care banget malah sampai-sampai dulu kita ngabarin satu sama lain kalo lagi pergi, tapi sekarang? Hehehe

Mungkin gak sih sekarang kamu lagi sama kayak aku, mikirin suatu hal yang dulu sama-sama kita jalanin sama-sama namun sekarang sudah berubah? Kayaknya enggak deh yaa... Kamu sekarang kan udah sibuk sama yang lain. Kadang aku berfikir untuk ngejauh dari kamu tapi tetap saja hati ini gak bisa. Bukan, bukan gak bisa tapi lebih tepatnya kayak gak mau. Setiap aku ngejauh dari kamu tiba-tiba kamu kayak juga gak mau aku ngejauh dari kamu, tapi setelah aku mencoba untuk gak mau ngejauh dari kamu tiba-tiba sikap kamu beda lagi seakan kamu gak perduli mau aku ngejauh atau enggak. Permintaan aku cuma satu tolong jangan bersikap seperti itu, tolong jangan labil seperti itu, atau jangan-jangan kamu juga seperti itu ke semua orang yang deket sama kamu?

Entahlah.

Mungkin ini waktu yang tepat buat aku ngejauh dari kamu. Ngejauh dari semua hal yang berhubungan dengan kamu. Mungkin aku memang munafik, yaa munafik dari apa kata hati. Hati bilang jangan tapi yaa gitu aku udah capek sama sifat kamu yang berubah-ubah. Aku ingin melupakan semua hal tentangmu.

Sekarang sikap kamu kayak udah gak perduli sama aku, inikah waktu yang tepat untuk aku ngejauh dan melupakanmu?